Laman

Semua Ini Tentang Ewi

Foto saya
Makassar, Makassar, Indonesia
Gadis dengan jilbab dikepalanya dan imajinasi tak terbatas di dalam pikirannya.

#3 Uno dan Wanitanya

picture from Tumblr
Bismillah...

"Jangan remehkan kekuatan seorang perempuan untuk mempertahankan pria-nya! Jangan abaikan kekuatan seorang perempuan melampiaskan rasa terlukanya"
-LajangdanMenikah-

Membaca kalimat itu, saya lansung saha seperti merasa dejavu. Merasa oernah mengalaminya di masa lalu saya. Dan memang saya pernah. Setahun yang lalu.
Namanya UNO. Awalnya hubungan kami memang tidak baik-baik. Dia sudah menjadi pacar orang lain, dan saya juga begitu. Tapi itulah masalahnya, saat masalah datang menerpa hubungan kami (dia dengan pasangannya, dan saya dengan pasanganku) mungkin niat kami cuma ingin sekedar merefresh kan hati dan pikiran, tapi entah kanapa kami justru terjebak. Saling merasa nyaman. Mungkin karna kami memang sedang merasa sakit, jadinya saling menguatkan dan saling melengkapi kebahagiaan.
Singkat kata, dia dan wanita itu putus. Tapi tidak dengan hubunganku dengan pasanganku (waktu itu). Akulah yang menjadi teman ceritanya, teman yang menghiburnya, dan teman yang selalu mengingatkannya untuk terus move on. Yah, hanya teman.
Perlahan tapi pasti, hubungan kami semakin intens. Kami memang sudah berbulan-bulan berkenalan, tapi cuma sebatas sms, telpon, dunia maya, tidak pernah sekalipun bertemu. Kami masih tinggal dalam kota yang sama, tapi dia tergolong anak rumahan yang senang berdiam diri di rumah kalau tidak sedang kuliah, dan saya juga tidak akan mau mendatangainya. Harga diriku masih terlalu tinggi untuk siapapun.
Kisahku dengan pasanganku akhirnya berakhir, permasalahannya karna rasa nyaman antara kami berdua memang sudah tidak ada. Lebih tepatnya rasa bersalahku padanya terlalu besar. Saya sadar, hubunganku dengan UNO hanya akan membuat dia semakin sakit, jadi lebih baik mengakhiri secepat mungkin.
Hari, minggu, bulan berlalu. Saya dan Uno masih menjadi teman. Sampai suatu ketika kami memutuskan untuk tidak lagi menjadi teman. Tapi kekasih.
Awalnya hubungan kami baik-baik saja, saya masih dengan kesibukanku dan dia juga seperti itu. Saat di umur 3 bulan kebersamaan kami, barulah kami memutuskan untuk bertemu. Itupun hanya keluar makan siang, sebentar sekali sebenarnya.Tapi kupikir, toh kami masih punya banyak waktu dilain kesempatan, jadi tidak apa. Hubungan kami cuma bertahan 8 bulan saja, dan dalam waktu itu kami cuma bertemu 5x. Itupun sebatas mengantarku pulang kalau aku sedang berada disekitar rumahnya.
Kami berakhir juga engan tidak baik-baik. Sialnya dia menghadirkan wanita lain. Entah dari mana datangnya wanita itu, tiba-tiba saja kulihat beberapa panggilan "ayah" di wall Uno darinya. Shit! Saya saja yang menjadi pacar resminya tidak pernah semesra itu.
Aku sudah berbicara baik-baik dengan mereka berdua. Aku juga mencoba memberi pengertian kepada wanita itu, dan syukurlah dia mengerti bagaimana jika ada dalam posisiku. Lebih tepatnya pura-pura mengerti. Toh pada akhirnya mereka masih saja saling berhubungan, telpon-telponan, smsan. Padahal wanita itu sudah kuanggap adikku sendiri, tapi begini dia membalasnya. hiks.
Aku tidak tahan. Bukan karna aku masih menyayangi Uno. Bukan. Rasa sayang yang ada padanya sudah hilang sejak aku tahu dia berkhianat. Mereka tidak boleh berbahagia diatas sedihku, rutukku waktu itu.
Aku dan wanita itu tidak lagi menjadi adik-kakak. Kami bermusuhan. Dia menerorku dengan semua kata-kata kotor yang dia punya, dan saya membalasnya dengan kata-kata yang lebih halus tapi menusuk.
"Salahmu karna punya pacar tapi gak bisa menjaganya"
"Dia bukan anak-anak lagi yang harus dijaga, dia sudah dewasa. Seharusnya dia mengerti mana wanita baik-baik dan mana wanita perusak"
Waktu itu semua teman-temanku dan teman-teman Uno berada dibelakangku, jadi tidak mengapa pikirku. Tapi kata-katanya memang ada benarnya, aku yang mungkin terlalu sibuk dengan duniaku, sampai tidak terlalu memperhatikan hubungan kami.
Lama kelamaan Uno mulai tidak nyaman dengan kekanak-kanakan kami berdua (aku dan wanita itu). Bagaimana mungkin dia bisa nyaman, kalau tiap saat wanita itu mengadu tentang teror-terorku padanya, emlebih-lebihkan dan mendramatisisr. Dasar nenek sihir! Dan Uno memang terjerat omongannya, dia mulai menyalahkan saya yang terlalu kasar katanya. Hei! Saya tidak pernah berbicara kotor sepertinya, saya tidak pernah mengatai dia yang bukan-bukan. Dianya saja yang selalu melebih-lebihkan.
Tidak tahan. Amat sangat tidak tahan dan akhirnya kami putus. 3 hari kemudian dia mengabarkan kalau sudah jadian dengan wanita itu. Aku murka. Tidak terima, dan sialnya aku cuma bisa menangis dan memberi selamat.
Aku teramat jengkel. Merasa harga diriku sudah tercoreng. Ini bukan lagi permasalahan siapa yang merebut siapa, tapi permasalahan kepercayaan yang kuberikan tidak lagi dijaga baik-baik.
Seandainya saja aku percaya karma, mungkin saat itu aku akan berpikiran bahwa hal yang menimpaku itu karma, dan diam-diam, hati saya mengaminkan jika mereka nanti mendapatkan karmanya masing-masing.
Aku tidak akan membalas dendam, tidak akan lagi menyalahkan siapa-siapa. Toh bukankah hubunganku dengan UNO memang awalnya sudah tidak baik?
Anyway,
ini sudah setahun lebih sejak kejadian itu. Sekarang saya dan Uno masih berteman, meskipun  bertemannya sudah tidak seperti dulu, tapi setidaknya sesekali kami masih bertukaran kabar. Dan wanita itu... mereka masih berpacaran.
Semoga cepat putus yah. Amin.
Hehehehe
:p

#2 silent please

15 Juni 2011
"Bagaimana rasanya kalau dunia tiba-tiba silent? 1 menit saja Tuhan.."
Itu salah satu status di akun twitter saya tadi (@EwiiWiie). Hari ini benar-benar mumet. Kekampus seperti ingin gila. Waktu tidak lagi berjalan, tapi sudah melesat bagai cahaya.
Tiba-tiba saja kami semua sudah ada diakhir, harus membenahi ini itu. Harus menyelesaikan ini itu. Tuntutan ujian yang tinggal eberapa menit lagi, laporan yang harus segera dikumpulkan. Argggghhh... GILA!
Entahlah, mungkin agak sedikit berlebihan. Kalau bisa meminta, bisa tolong mute-kan saja semua yang disini, Tuhan?
Kalau sudah semumet ini, saya cuma bisa mogok bicara.
Lebih senang diam dan memperhatikan mereka yang berlari. Ah, saya lelah.
Diam.
Saya butuh beberapa saat untuk diam. Tidak menghiraukan semua keributan disekitarku. berpura-pura tuli. Pura-pura buta. Hanya saya disini, no one else.
Saat menulis ini, saya masih berada di ruang kelas. Teman-teman yang lain entah berada dimana. Mereka sudah berhamburan keluar ruangan saat dosen menyatakan ujian hari ini di batalkan.
Oh, saya tidak sendiri rupanya, masih ada beberapa teman dibelakang saya yang entah sedang membicarakan apa. Tidak peduli.
Untuk diam, bukan hanya menutup mulut, tapi cobalah untuk membuka pikiran juga. Saat diam, kau akan seperti putus hubungan dengan orang-orang disekitar, tepatnya kau mengamati mereka yang tak mengamatimu. Dengan diam, kau akan jauh lebih banyak  berbincang dengan dirimu sendiri.
Sebenarnya, saya bukan orang yang gampang untuk diam. Butuh hal yang tidak biasa untuk menyuruhku diam. seperti hari ini, kepenatan yang amat mau tidak mau lansung menbuatku bungkam. Beberapa teman mungkin sempat kubuat kesal karna tidak menjawab apapun panggilan mereka. Bahkan tidak berbalik sedikitpun. Maaf. hari ini saya sedang leah, tidak sempat memperdulikan kalian.
Saat diam, artinya ada sesuatu yang tidak biasa dalam diriku. Saat diam, mungkin saya sedang sangat marah, amat penat, bahkan mungkin sedang sangat jengkel.
Hanya dengan diam saya bisa merasa agak tenang, sama seperti menulis. Bisa merefleksikan pikiran.
Saya diam. Cuma diam berbicara saja. Tidak diam menulis, tidak diam berpikir, tidak diam memperhatikan sekitar. Yang terjadi justru sebaliknya.
Saat diam, semuanya menjadi serba ekstra. Berpikir, memperhatikan, dan menulis.
Ahh...
Entah sampai kapan kediamanku hari ini berakhir. Pokoknya saya ingin diam saja. Biarkan mereka berceloteh dan saya yang memperhatikan.

#1 Kehilangan

Beberapa tanda hastag yang diekori sebuah angka kedepannya akan menghiasi blogku ini, semuanya sebenarnya telah ku tulis di catatan facebook-ku.
Untuk yang satu ini, kutulis di 14 Juni 2011. Tentang seseorang yang ternyata kelak menjadi 'seseorang' bagiku. Dia yang katanya ingin pergi, ternyata datang kembali dengan begitu banyak cerita.

This is it::

Kehilangan akan membawa kita kembali ke sebuah awal pertemuan. Itu peraturan utamanya.
Seperti kemarin, hari ini dan mungkin besok, kamu, kamu, kamu dan lagi-lagi kamu mengatakan ingin pergi saja dari hidupku, katanya menyesal sudah mengenalku.
Aku sama sekali tidak mengerti, apa sebenarnya yang sudah kulakukan sampai kalian segitu tidak sukanya padaku.
Sebaik-baiknya manusia, pastilah ia pernah melakukan kejahatan, sepintar-pintarnya manusia, pasti ia pernah melakukan kebodohan. Bukankah kalian mengerti itu? Aku ini manusia biasa, tidak bisa menjadi sempurna seperti yang kalian mau. Tidak bisa menjadi terus-terusan baik dimata kalian. Ada kalanya pribadiku menjadi amat keras, manja lalu berubah menjadi lembut dan dewasa. Aku tidak berjalan di satu garis saja, tidak statis dalam satu nilai.
Pahami itu.
Kemarin, salah seorang disini ternyata me-remove namaku dari friendlist-nya lalu mengatakan bahwa ia tak ingin lagi mendapat gangguan apapun dariku.
Penyebabnya 1. Hal yang tidak mungkin kubeberkan disini.
Saya mengerti sekali hal itu. Mengerti bahwa mungkin Anda tersiksa dengan terus-terusan mendapat 'gangguan' ku.
Entah apa yang pernah kulakukan, entah bagaimana sikapku sampai Anda segitunya menginginkan saya pergi.
Kemari-kemarin, saya memaksa untuk tetap bertahan. Mengancam akan masuk lewat jendela jika Anda tidak membukakan pintu, dan akhirnya saya memang tetap terusir dari 'sana'
Ah.. tidak mengapa pikirku, toh saya sudah pernah berada disana. Suatu saat, entah kapan, kita akan kembali bertemuAku yakin itu, dan aku percaya bahwa waktu akan mampu mengobati semua luka yang timbul karenaku. Harapku, semoga saat kita telah bertemu lagi, luka itu telah sembuh, tidak berbekas, hingga tidak ada lagi hal yang bisa membuatmu pergi lagi.
Aku ingin berteman. Tidak ingin bermusuhan. tidak ingin dilupakan. Tidak ingin menjadi parasit. Itu saja.

picture from Tumblr