Laman

Semua Ini Tentang Ewi

Foto saya
Makassar, Makassar, Indonesia
Gadis dengan jilbab dikepalanya dan imajinasi tak terbatas di dalam pikirannya.

Tentang Masa Lalu

Bismillah...
"I always knew looking back on the tears would make me laugh, but i never knew looking back on the laught would make me cry" -Tumbler-
Saya masih terperangkap dalam beberapa kenangan. Salah satu tentangnya, dia yang datang beberapa tahun silam.
Tapi sekarang hatinya tidak disini, Ia sudah menemukan rumah baru untuk hatinya.
Rumah yang nyaman tentunya, rumah yang penuh dengan cinta, tidak seperti yang ada padaku. Disana dia menemukan kesejukan yang tidak ia temukan padaku.

Selama beberapa bulan, saya sempat melupakannya. Sampai akhirnya saya membuka diary lama dan menemukan namanya disana, nama yang sengaja kuberi berbagai macam warna-to show my felling about him-. Di bulan-bulan selanjutnya, dia membuatku marah besar. Benar-benar marah. Tidak pernah saya semarah itu padanya semenjak kami putus. Dia berbohong. Sudah saya katakan berulang kali padanya bahwa saya akan ikhlas dengan semua perkembangan darinya, tapi tetap saja dia tidak mau mengakui bahwa dia telah berdua. Apa maksudnya itu?
Kamu pikir dengan berbohong seperti itu akan membuat hatiku tenang? Dengan siapapun kamu sekarang saya tidak perduli, saya cuma mau kau mengakui keberadaan gads itu. That's it.
Semenjak itu, saya memblokir semua jejaring sosial yang terhubung dengannya. Saya terlalu marah sampai tidak mau tahu lagi apa alasannya.
Belakangan ini, saya kembali mencari tahu tentangnya. Ternyata semarah apapun saya padanya, waktu masih menjadi obat yang ampuh untuk meredam kemarahanku. Setelah beberapa hari mencari, untunglah namanya masih ada disana. Disalah satu jejaring sosial tempatku bermain. Dan kau tahu, saya menemukan ini:
Kau telah berjalan jauh dariku, terlalu jauh untuk kugapai kembali. Tak apalah, karna kau memang telah menjadi satu dari sekian besar kenangan dimasa indah.

Kata Maaf Terakhir

Bismillah...
Apa kabar blogku sayang? Maaf yah, kamu udah ewi tinggalin laaamaaa banget. Tenang aja blogi, ewi gak selingkuh kok, cuma 'pensiun' sementara dari dunia maya.
Buat temen2 yang udah baca postingan sebelum ini, ewi bener2 minta maaf. Ewi kata-katanya kasar, ewi bahkan sampe make kata 'sampah'. Maaf.
Keadaan sepertinya sempat membuatku menjadi kasar, menjadi peringai yang dibenci orang-orang. Adasih beberapa yang menganggapnya biasa, tapi lebih banyak yang dengan terus terang mengatakan tidak suka dengan perubahanku. Waktu itu kupikir cuma ingin menjadi sosok yang lain saja, sosok yang tidak terlihat lemah, tapi entah kenapa justru membuatku terlihat kasar dan tidak sopan. Maaf.
Oiya, selain karna faktor batin yang masih lemah, modem juga jadi penghambat kenapa ewi jadi jarang muncul di dunia maya. Kartunya lagi sakit, kata kak Accul harus diganti. Ewi berharap banget pesanan kartu baru bisa cepat datang, jadi ewi gak perlu lagi repot-repot buat ke warkop kayak sekarang ini.

Hmm,, ini ada tulisan yang ewi buat beberapa hari yang lalu, semoga kamu dan kamu membaca ini, dan semoga masih ada maaf yang tersimpan untukku.

21 Maret 2011

Malam ini semuanya berubah. Tidak ada lagi kepura-puraan antara kami. Tidak ada lagi kata “sayang” murahan dari bibirku untuknya. Cepat atau lambat dia memang harus tahu kenyataan itu, dan akujuga tak bisa lagi menahan semuanya sendirian.
“Sejak dulu sampai detik ini, tak pernah ada perasaan sayang untukmu” kalimat itu sempurna menghiasi pesan singkatku padanya. Entahlah, 3 karakter yang kukirim 2 kali itu mungkin tidak bisa lagi dikatakan singkat.
Hari ini, meskipun kumulai dengan sesuatu yang menyakitkan, tapi ada rasa lega disana. Beban yang sekian lama itu terangkat juga dari hatiku, meskipun harus kutukar dengan kepahitan kala membaca statusnya “pembohong” itulah kata yang tertangkap olehku. Ya. Aku memang sengaja menyembunyikan semua kebenaran tentang kak ian, karna kupikir tidak ada gunanya lagi membicarakan sosoknya denganmu. Tapi aku salah, kamu masih bisa merasakan hadirnya dihatiku. Tidak sedikit tulisanku tentangnya yang membuatmu cemburu. Tidak sekali kau mendapati kata “cemmo” terhias dari salah satu kalimat rinduku. Salahku. Semuanya salahku. Aku akan mengerti jika kamu memutuskan untuk membenciku dan tidak mau lagi melihatku. Semuanya pantas untukku. Maafkan aku.
Kau tahu hal yang kubenci dari kalian, adalah karna kalian memiliki nama yang sama dan karater yang juga hampir sama. Aku benci memanggil namamu, karna dalam hatiku yang terbayang adalah wajah dari masa lalu. Masa lalu yang indah sekaligus menyakitkan. Indah karna dia yang selalu membuatku  merasa menjadi anak kecil, dan menyakitkan kala kuingat lagi keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya, yang justru ternyata membuat sejuta penyesalan timbul diakhirnya.
Salahku karna menghadirkanmu dalam kisah kami berdua. Salahku karna menjadikanmu obat lupa ingatanku. Salahku karna tidak menceritakan siapa sebenarnya kaki ian bagiku. Dan salahku lagi karna membiarkan kalian berdua berada dalam satu atmosfer denganku. Satu komunitas dan satu tujuan. Semuanya salahku.
Jika dulu ada yang menyebutku ‘troble maker’ kurasa sekarang aku layak menyandang gelar “heart breaker’.  Entah bagaimana perasaanmu saat tahu kebenaran ini. Mungkinkah kau merasakan sakit itu? Jika iya, maafkan aku dan jika tidak, syukurlah, artinya aku memilih waktu yang tepat untuk membicarakan denganmu. Saat kutahu telah ada wanita lain yang menjadi pengganti tempatku dulu.
Sekarang semuanya berubah bukan, kau dengan hidupmu, dia dengan hidupnya dan aku dengan kehampaanku. Dua orang yang pernah mengaku sayang padaku kubiarkan pergi begitu saja. Berusaha mencegah? Ya, aku pernah melakukannya, berkali-kali malah. Tapi sekarang kurasa semuanya percuma. Aku tidak pernah benar-benar berada dalam hati kalian, jadi tidak usalah aku bersusah payah mencari keberadaanku disana-dihati kalian-.
Oiya, kemarin sempat kubaca statusmu iyank, kau mengatakan “Seandainya bisa kuhapus air matamu”  Ahh.. kau tidak pernah mengatakannya padaku. Selama ini kau hanya berkata padaku “tidak sekalipun kudengar keluhanmu sayang, kenapa?” Saat itu hanya kujawab sepintas saja “karna tidak ada yang perlu dikeluhakan”. Sekarang aku mengerti, hakikatnya seorang lelaki ingin menjadi pelindung bagi kekasihnya. Seolah-olah menjadi pangeran penolong bagi Sang putri yang lemah. Tapi aku tidak pernah sekalipun memberimu kesempatan untuk menjadi pangeranku. Aku selalu menjadi wanita yang tegar untukmu. Dan mungkin saja kau merasakan bahwa aku tidak lagi membutuhkan kehadiranmu, toh ternyata aku bisa melakukannya sendiri. Itukah yang ada dipikiranmu? Jika ya, kau salah besar! Jangan lihat aku dengan mata kepalamu, lihatlah dengan mata hatimu. Kau akan tahu siapa sebenarnya gadis yang menjadi kekasihmu selama ini. Benar yang kau bilang “kau penuh dengan kepura-puraan”. Berpura-pura sayang. Berpura-pura tegar, dan parahnya lagi berpura-pura tidak ada kejadian menyakitkan di masa lalu.
Kurasa tidak ada gunanya kujelaskan semuanya lagi, kau tak lagi ingin mendengarku bukan? Ini bukan masalah yang ingin kau urusi lagi. Semoga kelak kau mengerti, tanpa perlu aku untuk menjelaskannya padamu. Yah semoga.